Perbedaan Objektif dan Subjektif


main img here
Posted by:
Author Unknown
-Published by:
Teman desty, belakangan populer istilah objektif dan subjektif.
Bukan hanya untuk percakapan resmi saja, istilah ini juga banyak terdengar di perbincangan santai kalangan milenial.
Objektif artinya bertolak belakang dengan subjektif.
Kalau ada istilah objektif, maka lawannya adalah subjektif.
Apa makna dua kata ini dan bagaimana perbedaannya?

Arti Kata Objektif dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Dalam KBBI daring milik Kemdikbud, istilah objektif memiliki arti sebagai kondisi di mana hal tersebut berdasarkan pada hal yang sebenarnya tanpa adanya pandangan pribadi pada diri seseorang.
Jadi, saat melihat, bersikap, berpendapat, semuanya berdasarkan pada fakta yang ada.
Bukan atas pertimbangan pribadi Teman desty, perasaan, dan sebagainya.
Makna objektif ini bertolak belakang dengan makna subjektif. Sekilas mirip tetapi makna dan penerapannya berbeda.
Istilah objektif ini misalnya dalam dunia pendidikan.
Di bidang penelitian misalnya, objektif adalah bagian dari sikap ilmiah seseorang sebelum melakukan penelitian.
Demikian juga bagi pelaku atau pengamat sejarah. Sikap objektif juga penting untuk kebenaran yang ada.
Objektif dalam sejarah artinya memandang sesuatu secara adil berdasarkan fakta yang ada.
Enggak bisa memandang sejarah atas pertimbangan pribadi atau berdasarkan perasaan dari seorang pengamat.
Selain sebagai sikap, objektif di dalam KBBI juga berarti benda yakni lensa.
Pernah dengar istilah lensa objektif?
Perangkat peralatan optis yang posisinya dekat dengan fokus benda yang Teman desty amati.

Arti Kata Subjektif dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Lawan dari objektif adalah subjektif.
Jika objektif berdasarkan pada kondisi sebenarnya atau fakta yang ada, maka subjektif adalah sikap atau pandangan sesuatu atas dasar pertimbangan dan perasaan pribadi.
Subjektivitas ini juga dibutuhkan pada porsi tertentu dalam menyikapi masalah.
Walaupun tentu saja ada plus minusnya saat kamu memilih objektif atau subjektif dalam bersikap.
Ada orang yang sulit sekali untuk objektif.
Selalu terpengaruh dengan pandangan dan perasaan pribadi.
Akibatnya orang seperti ini sedikit sulit untuk bersikap adil dalam bersikap atau menilai sesuatu.
Objektif dan subjektif adalah sikap yang saling melengkapi sesuai dengan kondisi dan kebutuhan yang ada.

Mana yang Benar, Objektif atau Obyektif?

Perlu Teman desty ketahui bahwa kata yang baku di dalam KBBI adalah objektif.
Jadi istilah obyektif hanya istilah lisan saja, enggak baku.
Begitu juga dengan subjektif. Bentuk enggak bakunya adalah subjektif.
Jadi kalau kamu mau mencari arti kata di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata yang kamu masukkan haruslah kata bakunya.
Kalau misalnya untuk sebuah tulisan, maka kata yang benar adalah subjektif dan objektif, bukan subyektif dan obyektif.
Teman desty sendiri seorang yang bagaimana, sering berpikir subjektif atau objektif?
Ingat, berpikir objektif artinya kamu lebih adil dalam bersikap, sekaligus lebih membuat kamu tenang dan terhindar dari kebingungan dalam bersikap.

Objektivitas dalam Dunia Marketing

Setelah memahami arti objektif dan subjektif, bagaimana Teman desty memahaminya dalama dunia marketing?
Objektif pemasaran atau marketing objectives adalah hal ingin dicapai perusahaan melalui kegiatan pemasarannya.
Tujuan dari objektif pemasaran ini harus dibarengi konsistensi tujuan dan sasaran perusahaan dengan arah dan fokus yang jelas bagi tim pemasaran atau marketing.
Selain Teman desty memecah target, perlu ada validasi rencana untuk memastikan objektif pemasaran tersebut praktis, konsisten, dan masuk akal dengan tujuan perusahaan.
Teman desty bisa menggunakan teknik SMART yaitu Specific (spesifik), Measurable (terukur), Achievable (mampu dicapai), Relevant (relevan), dan Time-bound (terikat dengan waktu).

Identifikasi Objektif Pemasaran

Rancangan objektif pemasaran perlu diselaraskan dengan hasil analisis audit pemasaran.
Umumnya, objektif pemasaran bersifat jangka panjang dan memiliki fokus bidang di antaranya:
  • Pangsa pasar
Meningkatkan penjualan.
  • Posisi
Membedakan penawaran perusahaan di pasar tujuan atau sasaran.
  • Citra perusahaan
Mengomunikasikan citra perusahaan beserta nilai perusahaan kepada publik.
  • Meningkatkan loyalitas brand
Mengembangkan loyalitas brand sehingga terjadi transaksi berulang.
  • Memperluas market produk
Berpindah ke segmen baru dari pasar yang sudah exist atau terlibat dalam pasar baru.
  • Diversifikasi
Memperkenalkan dan mengembangkan produk ke pasar baru.
Dalam mengembangkan citra perusahaan misalnya, Teman desty membutuhkan banyak channel media sosial.
Landing page bisa menjadi solusi praktis untuk menjangkau pasar sekaligus personalisasi bisnis yang kamu kelola.
Jika kamu merasa marketplace terlalu ramai dengan kompetitor, bikin website online shop kamu sendiri untuk menjangkau pelanggan loyal Teman desty.
Dengan memahami apa itu objektif dan subjektif kini Teman desty lebih mudah menentukan langkah selanjutnya, betul tidak?